Di Kota Istimewa ini, Apa Yang Istimewa Bagimu? #Yogyakarta

Hi, Journeyers!

Dalam melakukan traveling, bagi kalian apa yang penting? Teman traveling? Destinasi yang dituju? Atau waktu dan dana yang dikeluarkan? Bagiku, semua itu penting! Yah, sangat penting untuk kita memikirkan dan mempertimbangkan itu semua. Untuk mengajak teman traveling, pastikan teman yang kita ajak adalah orang yang memiliki minat, hobi dan semangat yang sama. Karena, jika kita mengajak orang yang salah, maka perjalanan kita akan terasa membosankan serta akan muncul berbagai kendala. Pastikan teman travelingmu memiliki hobi yang sama, ya! Jangan ajak teman yang hobinya nongrong di Mall, untuk bertraveling di alam. Mereka akan sangat merepotkan dan risih, loh! ✌ #peace




Destinasi yang dituju, yah, destinasi yang di tuju ini merupakan destinasi yang memang sama-sama ingin kita kunjungi. Serta dana dan waktu, sebagai seorang yang hobi melakukan perjalanan. Dana dan waktu juga sangat dipertimbangkan, karena jangan sampai kita keteteran saat mengunjungi suatu destinasi memakan waktu lama dijalan atau menghabiskan dana yang besar. Kita tak hanya ingin mengunjungi satu lokasi saja, banyak tempat yang ingin kita jelajahi, jadi pikirkan budjet dan waktunya ya, Guys!

Perjalananku menuju kota Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu destinasi yang sudah aku impikan sejak lama. Cukup menunggu selama lebih kurang 2 tahun, tujuan ke Yogyakarta hanya sekedar wacana.

Berawal dari adanya Travel Fair yang diadakan oleh Sriwijaya Air. Aku dan teman-temanku berencana ambil liburan ke Malang yaitu Bromo atau Labuan Bajo di Flores. Mengantri dari pagi untuk mendapatkan promo tersebut, dan dengan 2 kali ke lokasi travel fair. Sayangnya, kita tak pernah kebagian tiket tersebut. Antrian yang panjang dan juga banyaknya orang yang ingin mendapatkan promo tersebut. Sedih? Tentunya! Kita sudah antri dari pagi sampe sore, gak kebagian tiket promo. Tapi, hal tersebut tak menyurutkan keinginan aku dan teman-teman. Saking kesalnya, kita tetap harus berlibur, tak peduli menggunakan pesawat atau kereta. Dalam perjalanan pulang dari Travel Fair, aku, Maike dan Agus membahas rencana perjalanan kita. Hingga akhirnya, kita memilih Yogyakarta! Yah, kota impianku dan Maike. Kala itu, salah satu teman, Endo tak ikut ke Travel Fair di hari kedua, karena dia sudah berusaha mendapatkan tiket tersebut di hari pertama. Saat kami membahas rencana ke Yogyakarta, aku masih ingat, dia tak menyetujuinya. Karena, dia sendiri sudah pernah ke Yogyakarta di tahun yang sama. Meski awalnya sedikit susah untuk membujuk ini orang, akhirnya dia setuju untuk menggantikan destinasi kita ke Yogyakarta. Dan katakan selamat tinggal Bromo, sampai jumpa nanti Labuan Bajo! Heheh

Malam itu, masih di bulan September, kita memutuskan untuk berangkat pada tanggal 30 November 2018 di hari Jumat, dan kembali ke Jakarta tanggal 2 Desember 2018 di hari Minggu. Berangkat menggunakan jasa kereta api dari Stasiun Senen menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Kita langsung booking tiket pp sebesar Rp. 310.000,-. Dan yang fix untuk berlibur ke Yogyakarta, aku, Maike, Laras, Endo, Agus dan David.



Hingga di hari yang sudah ditentukan, akhirnya perjalanan akan dimulai, sepulang kerja, aku dan Laras (teman sekantor) segera menuju ke Stasiun Senen. Maike dan teman lainnya juga menyusul. Kita berangkat untuk perjalanan pukul 22.00 WIB. Kereta mulai berangkat, aku dan teman-teman memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Dan, You know, Guys? Aku sama sekali tak bisa tidurrrr 😭 Cahaya lampu terang benderang sekali, aku sangat sulit untuk tidur di suasana terang. Aku sudah berusaha untuk menutup wajahku dengan topi hingga kain agar cahayanya berkurang, namun sangat disayangkan, hingga waktu matahari mulai terlihat, disaat pukul 5.30 WIB, mataku masih tampak tak bisa dipejamkan. Yah, sudahlah, aku berharap akan baik-baik saja.

Sesampai di stasiun Lempuyangan, kita langsung tukar pakaian di toilet stasiun. Karena, setiap perjalanan jauh aku memilih menggunakan kaos dan celana training saja.

Semuanya sudah beres, kita keluar dari Stasiun Lempuyangan. Kita pun menuju tempat merental motor yang ada di seberang dari Stasiun Lempuyangan. Rental motor disana terbilang murah, karena perharinya 70k dan persyaratannya hanya KTP asli saja. Kebetulan kita berjumlah 6 orang, jadi pas untuk kita meminjam 3 motor untuk 2 hari.

Destinasi pertama yang kita kunjungi adalah spot riyadi. Dengan menghandalkan google maps, akhirnya kita muter-muter. Wkwkwk

Menuju spot riyadi, kita melalui jalan yang mendaki. Jalannya terbilang belum terlalu bagus, namun masih mudah untuk di lalui. Di spot riyadi, kita akan bisa melihat pemandangan sekitar Candi Prambanan. Sebenarnya, kalo ke spot riyadi lebih bagus di malam hari, namun kita memilih pagi hari karena lokasinya yang tak jauh dari Stasiun. Kita sampe disana sekitar pukul setengah 10 pagi. Udah panas banget, Guys!

Pemandangan yang indah (dengan penampakan makhluk yang tidak tidur semalaman 😅)

Disini kita tak berlama-lama, karena tampak biasa saja kalo tidak di waktu senja atau malam hari. Setelah take beberapa foto, kita memutuskan untuk segera ke Candi Prambanan, yang sudah terlihat dari atas spot riyadi ini.

Perjalanan berlanjut menuju ke Candi Prambanan. Lagi, kita menghandalkan google maps. Dan disini terjadi hal yang membuat teman-temanku kesel dan juga ketawa. Aku dipercayakan untuk membaca google maps. Lalu, setelah mengikuti instruksi google maps, kita justru hanya berputar-putar di lokasi yang sama. Hal ini membuat teman-temanku kesal. Endo, salah satu teman yang kebetulan memboncengiku, dia memintaku men-check kembali lokasi tujuan. Ternyataaaaaa, lokasi yang aku cari di maps, adalah restoran prambanan, Guys! Bukan Candi Prambanan! Semuanya ngakak dan Endo bilang “Dibawah alam sadar, ova memberitahu kalo dia lagi lapar”. Aku maluuu.

Finally, kita melanjutkan perjalanan. Tak jauh, kita sampai di Candi Prambanan. Disana, sebelum masuk lokasi Candi, kita memarkirkan kendaraan di luar lingkungan Candi. Kita masuk melalui orang-orang yang berjualan souvenir khas Yogyakarta. Sebelum masuk Candi, kita memilih untuk mengisi kekosongan perut, eh, mungkin karena kode aku kesalahan membaca maps tadi. Hihi

Tak lama setelah makan, barulah kita memasuki area Candi. Kita membeli tiket terlebih dahulu. Didepan loket, kita disuguhi dengan berbagai paket perjalanan mengelilingi candi. Ada paket yang menggunakan kendaraan, jadi bisa mengelilingi atau menyusuri semua lokasi candi, tak hanya Prambanan, tapi juga candi-candi lainnya. Kita memilih tiket yang biasa saja seharga 40k/tiket. Karena kita ingin menyusurinya dengan berjalan kaki. Agar bisa mengambil foto disaat mendapatkan spot yang bagus.

Yah, aku seneng sekaliiiiii!

Satu destinasi yang ku inginkan terceklis ✔ Ova pernah kesini, Candi Prambanan! Terkesan norak? Yah, mungkin. Karena, ini impian yang lama baru terrealisasi.

Yogyakarta yang selalu menjanjikan ketenangan yang menenangkan!

Lokasi Candi Prambanan sangat luas. Menurut sejarahnya, Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Dinding Candi terukir berbagai tampilan seperti gambaran kehidupan masa lampau. Dari setiap ukirannya, memiliki makna dan cerita masa lampau. Jika kita memasuki dalam candi, akan banyak ruang-ruang yang ruangnya memiliki nama tersendiri. Aku memilih memasuki ruang Syiwa karena di tengah ruangan terdapat Arca Syiwa Mahadewa, yaitu Syiwa dalam posisi berdiri di atas teratai dengan satu tangan terangkat di depan dada dan tangan lain mendatar di depan perut. Banyak wisatawan mengambil foto di lokasi ini, dan tampak juga tour guide yang sedang menjelaskan sejarah Arca tersebut.

Kiri ke kanan, belakang (David, Endo, Agus), depan (Aku, Maike, Laras)

Di Candi Prambanan, kita cukup menghabiskan waktu yang lama, sembari istirahat sejenak dan juga menunggu waktu shalat zuhur.

Waktu berlalu, setelah shalat kita duduk sebentar dibawah pohon yang rindang. Diskusi dadakan untuk menentukan lokasi selanjutnya. Memang, litenary sudah kita buat, namun karena ada beberapa kendala, yakni saat itu ada teman yang sudah lelah. Yah, disini kita berdebat sebentar. Memilih untuk ke penginapan terlebih dahulu atau langsung ke destinasi berikutnya yaitu Pantai Sadranan. Lokasi pantai memang jauh, akan memakan waktu lebih kurang 2 jam. Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kita memilih tetap melanjutkan untuk menuju ke Pantai Sadranan.

Kembali menghandalkan maps. Kita menuju lokasi pantai yang berada di Kabupaten Gunung Kidul. Di pertengahan perjalanan menuju Pantai, kita singgah sebentar di sebuah Warung Pangsit. Pangsit disini dihargai sebesar 8k/porsi. Murahhhh banget, Guys! Porsinya pun banyak, rasanya enak. Aku lupa nama lokasi pastinya.

Kita melanjutkan perjalanan. Melalui sawah, hutan, jalan yang sepi hingga ramai. Akhirnya, kita sampai di Pantai Sadranan sekitar pukul setengah 4. Setelah shalat ashar, kita langsung menuju lokasi pantai. Untuk tiket masuk, kita dikenakan sebesar 10k/tiket. Begitu banyak pengunjung yang sudah ada disana. Di Pantai ini, kita juga bisa bermain snorkling dengan harga 35k. Hanya yang cowok-cowok saja bermain snorkling. Kita yang cewek-cewek sibuk berfoto. Kenapa kita gak bermain snorkling? Heh, jawabannya singkat, kita males untuk basah-basah.

Menjelang senja di Yogyakarta

Pantai Sadranan dikenal juga dengan permata indah di gunung kidul Yogyakarta. Pasir pantai yang putih, warna air laut nan biru, sungguh ini akan mengingatkan kita pada Pantai Kuta di Bali (kata beberapa wisatawan).

Senja dan Pantai, satu kesatuan nan romantis 

Aku dan senja di Pantai Sadranan, Yogyakarta

Waktu berlalu, dan pemandangan pun mulai menghilang di tutupi kegelapan. Kita kembali memikirkan bagaimana cara untuk pulang. Terjadi pro dan kontra. Karena jika kita pulang menggunakan rute yang sama dengan saat pergi tadi, akan sangat mengkhawatirkan, menurut Agus. Lokasi yang sepi dan menyelusuri hutan (anggap saja seperti itu, hehe)

Dan setelah mencoba bertanya, kita pun mendapatkan rute baru, tak perlu melalui tempat sepi tadi. Kita menyelusuri perjalanan nan ramai, hingga akhirnya kita sampai di penginapan yang sudah booking sebelumnya melalui pegi-pegi.com. Nama hotelnya Hotel Sala, berada di Jl. Munggur No.42, Yogyakarta. Kita mengambil lokasi ini karena lokasinya tak jauh dari Malioboro dan Stasiun. Serta harganya pun terbilang murah dengan fasilitas kamar yang memuaskan. Kita pesan 2 kamar yang muat untuk tiga orang perkamarnya. Dengan harga Rp.258.020,- untuk 2 kamar. Setiap kamar diberikan juga fasilitas 2 tempat tidur, satu yang ukuran king, dan satu lagi yang single. Ada ac dan tv di setiap kamar. Sesuai dengan yang ditawarkan pada website serta gambar yang ditampilkan. Pokoknya, kalian kalo mau ke Yogyakarta, aku rekomended banget hotel ini.

Setelah check in, kamar yang di booking posisinya bersebelahan. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Kita membersihkan badan lalu segera menuju ke jalan Malioboro. Konon katanya, Malioboro akan indah apabila kita kesana di waktu malam. Yah, tujuan utama kita mencari makan terlebih dahulu. Selagi makan, kita disuguhi dengan nyanyian dari para Penyanyi Jalanan di Malioboro. Suaranya tak kalah bagusnya dengan penyanyi yang profesional. Makin malam, makin rame, begitu lah di Malioboro. Terlebih malam ini, malam minggu, eits yang j**blo malamnya gak suram deh, heheh.




Tak hanya kaum muda, tampak kaum tua juga meramaikan sepanjang jalan Malioboro. Banyak yang jualan di sepanjang jalan. Saking ramenya, kita jadi malas untuk berfoto disana.

Setelah kita berjalan-jalan sebentar di Malioboro, kita memutuskan kembali ke penginapan, untuk beristirahat karena besok akan melanjutkan perjalanan ke destinasi lain.

Beristirahatlah sejenak, karena waktu malammu sangat singkat untuk perjalanan yang panjang!

Untuk perjalanan hari kedua di Yogyakarta, akan ada di postingan berikutnya ya, Guys!

Have fun for reading!

Visit my youtube channel for Yogyakarta:

https://m.youtube.com/watch?v=TME2SP-96gw

 

=Big Hug=

#Ovajourney

 

0 comments
24 likes
Prev post: Pesona Bukit Sikunir Yang Terlewatkan dan Sejarah Candi Arjuna, Dieng!!! (Day II)Next post: Keindahan Air Terjun Niagara Mini Dari Sukabumi? Yuhuuu Kuy ke “Curug Awang”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *