Hi, Journeyers!

Rutinitas yang monoton selalu membuat kita hilang semangat dan cepat lelah. Disaat kondisi seperti ini, apa yang kalian lakukan? Banyak diantara mereka akan melakukan berbagai macam hobi yang mereka senangi. Begitu juga aku!

Untuk liburan awal tahun kemarin, aku memutuskan untuk gabung dengan teman aku menikmati keindahan alamnya Kota Sukabumi. Sukabumi merupakan sebuah Kabupaten di Jawa barat yang memiliki sejuta pesona dan panaroma alam yang menakjubkan dan masih banyak yang tersembunyi.

Di hari terakhir penutupan tahun 2018, aku memilih berkemah di Puncak Darma Cileutuh (lihat di postingan sebelumnya: https://ovajourney.com/cihuy-trip-to-puncak-darma-ciletuh/). Dan esok harinya, kita sudah memasuki hari pertama di tahun 2019. Destinasi selanjutnya hari kedua di Sukabumi adalah Curug Awang. Mari ikuti ceritaku menyusuri keindahan Curug Awang.




Lokasi Curug Awang

Tau kan dengan Air Terjun Niagara yang ada di wilayah perbatasan Amerika Serikat? Nah, Curug Awang merupakan jelmaan Air Terjun Niagara tersebut yang ada di Indonesia, yaitu di Sukabumi. Kemiripan ini dapat kalian nikmati, jadi tak perlu jauh-jauh ke USA untuk menikmati keindahan alam ini.

Lokasinya masih berada di kawasan Geopark Ciletuh, tepatnya di desa Tamanjawa, kecamatan Ciemas, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Kenapa disebut Niagara Mini-nya Sukabumi? Karena Curug ini mirip dengan Air Terjun Niagara di perbatasan Amerika Serikat. Tinggi curug Awang sendiri mencapai 40 meter.

Trekking Dari Puncak Darma Cileutuh

Untuk menelusuri keindahan curug Awang ini, kita akan melewati beberapa curug. Aku sendiri juga gak tahu nama curug ini apa. (Mungkin teman yang tau boleh komen di kolom komentar 🙏).

Curug Awang berada di sekitar persawahan masyarakat sekitar. Terbentuk karena adanya sungai yang dibatasi dengan tebing, hingga air terjun menuju sungai yang dibawahnya.

curug awang sukabumi
Tetap indah, mesti terlihat dari kejauhan

Dari puncak Darma Ciletuh menuju Curug Awang, kita melewati jalan yang dikelilingi persawahan, dan juga akan terlihat juga pantai pelabuhan Ratu. Untuk lokasinya gak terlalu jauh dari Puncak Darma.

Namun yang perlu kalian ketahui, Guys! Jalannya tak semulus yang kita harapkan. Mulai berlumpur, berkerikil, dan menanjak. Untuk yang menggunakan berkendaraan motor, harus sangat hati-hati. Tapi, jika kalian ingin menggunakan mobil, jalannya juga sudah bisa dilalui mobil juga kok.

lokasi curug awang sukabumi
Menuju Curug Awang (menuju parkiran)

Air Terjun Niagara Sukabumi

Untuk temen-temen yang mau ke Curug Awang, akan lebih bagus pada saat musim hujan. Karena debit air curug akan semakin besar, sehingga pemandangan air terjunnya akan terlihat lebih indah serta sangat mirip dengan Air Terjun Niagara di Amerika Serikat. Kalau di musim kemarau, air sungai akan sedikit mengering dan debit air pun kecil.




Aku dan temen-temenku ke Curug Awang awal tahun kemaren, kondisi cuaca memang sedang hujan. Jadi, jalan menuju Curug sangat licin dan banyak lumpur. Oh ya, kalian juga akan disuguhi pemandangan perternakan sapi, sawah nan hijau, serta rimbunan pohon.

air terjun curug awang
Curug Awang

Disana ada sebuah warung kecil, sebelum kita memasuki persawahan, kita menitipkan barang-barang seperti ransel, dan lainnya tapi ingat barang-barang berharga tetap harus dibawa ya, Guys!

Yang kami bawa kebawah barang-barang berharga seperti dompet, kamera dan handphone serta tak lupa baju ganti berserta alat mandi lainnya. Btw, itu kita belum ada yang mandi dari hari sebelumnya. Wkwk

air terjun curug awang
Alam Indonesia Nan Indah
air terjun curug awang sukabumi jawa barat
Tampak bagian bawah Curug Awang
Curug awang sukabumi
Air terjun Niagara-nya Indonesia

Tampak warna air sungai yang coklat dan mengalir kencang. Saat kita menikmati keindahan Curug Awang tersebut, rintik hujan kembali hadir. Temen yang lain masih melanjutkan mandi di sungai tersebut sembari membersihkan lumpur yang ada di sepatu mereka, itu merupakan sisa lumpur dari Puncak Darma.

Karena minimnya air di Puncak Darma, kita memilih membersihkan sepatu di Curug Awang. Aku tak berlama di Curug ini, karena setelah membersihkan sepatu dan mengambil beberapa spot foto, aku dan temanku memilih kembali ke atas. Setelah membersihkan badan, aku beristirahat sejenak di warung, dimana tempat kami menitipkan barang sebelumnya.

Endo, salah satu temanku saat itu masih dalam kondisi yang tidak sehat. Jadi, aku memilih cepat ke warung untuk sekalian membawa dia beristirahat sejenak. Tak lama kemudian, Falah, Yeyen, Tiara dan Amin pun menyusul ke warung. Cuaca dingin, hujan rintik, yang terlintas enaknya makan Mie Rebus 🤤

Dan kita masih memiliki beberapa Pop Mie, kita makan pop mie dan memesan teh panas ke Ibu warung. Kita juga dikasih air panas untuk merebus pop mie. Setelah cuaca sudah agak mendingan, perut sudah terisi kembali. Kita bayar teh panas beserta air panas Ibu tersebut.

Saatnya Pulang…

Cukup menikmati keindahan Curug Awang. Kita memulai perjalanan kembali ke Jakarta. Sedangkan Yeyen dan Falah langsung ambil jalan ke Bandung. Cuaca saat itu sudah tak lagi hujan. Kita memilih jalan yang berbeda dari jalan sebelumnya. Disini cukup membingingkan dan mengesalkan.

Kenapa tidak? Ternyata jalan yang kita tempuh merupakan jalan yang sangat tidak mulus. Penuh bebatuan dan licin. Aspal yang bolong-bolong. Belum terlalu jauh kita berjalan. Hujan kembali mengguyur kota Sukabumi. Saat itu, aku yang berbonceng dengan Endo, sedangkan Tiara dengan Amin, kita berempat terpisah.

Tersesat dijalan? Pastikan liat petunjuk dijalan.

Mereka gak bakalan tahu, seberapa senengnya kita ngliat plank ini disaat nyasar gak tahu arah. Jaringan hp minim gak bisa digunakan untuk google maps, lalu kita terpisah dengan rombongan yang lain. Hanya bermodal dengan menanyakan ke orang di jalan, “ke Bogor arah kemana ya, Pak?” Tapi, jawaban orang-orang tersebut masih menjadi keraguan, karna kita gak pernah ketemu ama plank menuju Bogor atau Jakarta. Yang ada hanya menuju Bandung. Sampe kepikiran, klo kita justru nyampenya malah ke Bandung gimana? Aduah, itu bisa di anggap apes banget dah. Karna kondisi teman yang mengendarai motor sakit, yang terpikir saat itu kita harus cepat nyampe Jakarta. Sampe akhirnya kita liat plank ini, “Alhamdulillah”, kita bener2 bersyukur, karna ada pencerahan.

~Sepenggal cerita Trip to Geopark Ciletuh~

Endo yang kondisinya masih sakit, tetap bersikukuh untuk tetap lanjut mengendarai motor. Yah, disini aku kembali menyesali ketidakberanianku untuk mengendarai motor. Hingga akhirnya kita menemui sebuah warung, di tengah perjalanan yang sepi dan hujan. Warung yang tak jauh dari lokasi wahana seperti waterboom disana.

Di warung tersebut aku biarkan Endo tidur lebih kurang 1 jam, setelah meminum air panas. Dan lagi, hanya ada mie rebus. Dia berusaha makan mie tersebut, tapi gak bisa, hanya makan telurnya saja. Di lokasi tersebut sangat minim sekali sinyal.

Aku kesulitan untuk menghubungi Tiara. Sudah hampir sejam berdiam disana, Tiara menelpon. Mungkin dia temukan tempat ada sinyal. Aku mengabari kondisi aku dan Endo saat itu, dan membiarkan mereka tetap lanjut. Jika harus nunggu, kemungkinan akan sangat lama, pikirku.

Sudah pukul hampir jam 4 sore, kita melanjutkan perjalanan lagi, hingga akhirnya temukan tempat shalat. Lalu melanjutkan lagi. Waktu itu kita berpikir ingin makan Nasi Padang yang kita kunjungi saat berangkat hari sebelumnya.

Namun, disayangkan rumah makannya tutup. Dan kita berhenti lagi di mesjid untuk shalat magrib. Disini aku sedih lihat sikon temenku, dia bener-bener kedinginan. Padahal sudah tak lagi hujan.Aku berikan selendang syal dan sarung tanganku agar sedikit menghangatkan.

Sebelumnya aku sudah tawarkan juga, namun dia tak mau menggunakan dengan berpikir percuma kalo tetap kena hujan, pake syal pun tetap kebasahan.

Karena rumah makan yang kita inginkan tutup, kita mencari rumah makan yang lain, yang masih buka. Akhirnya kita menemukannya sudah saat memasuki kota Bogor.

Aku dan Tiara kembali bertemu saat sudah mendekati Stasiun. Aku dan Endo mengembalikan motor yang kita sewa terlebih dahulu. Dan segera menuju stasiun, yang mana Tiara dan Amin sudah nyampe duluan disana. Waktu itu sudah hampir jam 10 malam. Kita sempatkan untuk berswafoto berempat.

Alhamdulillah, kembali dengan selamat 😇

Lalu, aku, Tiara dan Endo langsung menuju ke kereta agar tidak ketinggalan. Tiara duluan turun di Stasiu  Depok, karena dia tinggal di Depok. Aku dan Endo turun di Stasiun Cawang. Dari stasiun Cawang, kita menggunakan ojol masing-masing menuju kosan.

Akhirnya, perjalanan akhir tahun dan awal tahunku, menyusuri keindaham Curug Awang yang menurutku ini ekstrim kembali dengan selamat.



Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita melakukan perjalanan. Maka, jangan pernah lupa untuk membaca doa saat melangkah keluar rumah ya, Journeyers!

Sekian sepenggal ceritaku menapaki kaki di kota Sukabumi. Bagaimana dengan cerita kalian?

 

=Big Hug=

#ovajourney

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like