Cihuy!!! Trip to Puncak Darma Ciletuh!

Kalo mendengar nama Puncak Darma Ciletuh pasti kalian sudah pada tahu wisata alam terbuka yang ada di Sukabumi ini. Yapt! Puncak Darma ialah salah satu dataran tertinggi di kawasan Geopark Ciletuh. Bukit di Puncak Darma berada di ketinggian 230 meter di atas permukaan laut, di atas Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Sukabumi.

Ini perjalanan yang merupakan penutup akhir tahun 2018 dan juga pembuka awal tahun 2019 bagiku. Perjalanan yang dilakukan 2 hari 1 malam ini cukup memberi kesan yang teramat. Mungkin kalimat yang menggambarkan perjalanan kali ini, “Gak sesuai ekspetasi? Nikmati saja momentnya, Guys”.

Trip to Sukabumi, inilah tujuan awalnya, kita mau ke beberapa destinasi yang ada di Sukabumi. Namun, situasi dan kondisi saat itu tidak bersahabat banget, dari cuaca dan mood anggota tim dalam trip ini.

Rencana trip ini sudah bahas di awal bulan Desember 2018. Salah satu teman aku memperlihatkan foto destinasi yang akan dikunjungi. “Sungguh, indah banget”, celetukku saat itu. Oia, kalian tahu? Kita membahas ini masih di dalam kereta, sepulang dari Yogyakarta 😀 . Kala itu, aku berpikir, trip-nya dijadwalkan pada tanggal 31 Desember 2018. Dan pada tanggal itu, aku masih masuk kerja. Gak mungkin untuk ambil izin karena pasti gak cuma aku yang pengen libur di tanggal segitu. Dan temanku memaklumi, posisi aku sebagai staff di salah satu Bank BUMN, hanya bisa ambil jadwal untuk trip klo gak di weekend, atau di tanggal merah. Seperti biasanya, aku hanya bisa berkata, “Jangan lupa ambil foto terbaik, lalu kirim ke Ova ya!”, dengan pasrah tapi tak rela :D.

Pada perjalanan ini, cukup terjadi beberapa konflik. Kenapa? Yah, karena aku yang akhirnya ikut untuk trip ini. Ternyata mereka sudah mengatur keberangkatan untuk 4 orang, dengan 2 kendaraan, dan jika aku gabung, jadinya 5 orang. Sempat berpikir untuk tidak jadi pergi. Namun, akhirnya masalah kendaraan terselesaikan dengan bertambahnya anggota yang tergabung menjadi 8 orang. Yaitu aku, Endo, Tiara, Amin, Jepri, Bambang, Yeyen dan Falah.

Oiya, mungkin teman-teman berpikir, kenapa harus berangkat dengan anggota dengan jumlah genap? Nah, jadi gini teman-teman, kalo kita mau ke Puncak Darma Ciletuh, enaknya dengan menggunakan kendaraan bermotor. Selain untuk memudahkan akses perjalanan, kita dapat menikmati pemandangan selama perjalanannya, Guys! Karena, daerah Sukabumi masih dipenuhi dengan pemandangan alam yang hijau-hijau, dapat menyegarkan mata. Dengan jumlah yang genap, setidaknya masing-masing kita sudah memiliki teman selama perjalanan. Pada trip ini, awalnya kita memilih meeting point di Stasiun Bogor. Jadi, aku sama Endo berangkat dari Jakarta. Tiara dari Depok. Amin, Jepri dan Bambang dari Bogor. Sedangkan Yeyen dan Falah dari Bandung. Namun di hari H, kita berangkat dengan terbagi 2 rombongan, Guys! Aku, Endo, Tiara dan Amin berangkat di jam yang sama sekitar pukul 11.00 WIB dari Stasiun Bogor (maafkeun, ngaret banget untuk start-nya, gegara ada beberapa kendala yang terjadi pada saat aku dan Endo berangkat dari Jakarta).

Dari kiri ke kanan, Endo, Aku, Amin, Falah, Yeyen, Tiara, Jepri. No full team, Minus Bambang (Maafkeun Bams)

Oia, teman-teman, jadi dalam perjalanan ini aku dan Endo memilih sewa motor, kita sewa di Bogor. Namanya Traverent Bogor. Motor yang disewakan pun masih baru dan kondisinya juga sangat bagus. Harga sewanya saat itu 120k/hari, harga sewanya naik dari hari biasanya dikarenakan suasana akhir tahun. Dan kebetulan itu satu-satunya motor yang tersedia. Kita merasa beruntung banget. Sudah beberapa tempat sewa motor yang kita hubungi, stok mereka sudah habis. Peminjaman motor di Traverent, kita jemput motornya di Basemant KFC Taman Topi Square, seberang dari Stasiun Bogor.

Perjalanan menuju Puncak Darma Ciletuh lumayan memakan waktu , selain macet, kita terhalang dengan cuaca yang hujan saat itu. Awalnya kita tetap lanjutkan perjalanan. Namun, karena semakin deres, akhirnya aku dan Endo memilih berteduh didepan RM Padang namanya Singgalang, (haha, kemanapun, dimanapun, dan kapanpun, Nasi Padang tetap jadi incaran) ini dikarenakan cacing dalam perut sudah mulai demo. Ternyata, saat itu, Tiara dan Amin juga berhenti di tempat yang sama, hanya berjarak beberapa meter. Padahal kita gak janjian, dan juga sulit berkomunikasi, karena hujan sangat deres, kita saling mendahului. Akhirnya di pertemukan kembali di RM Singgalang, untuk nama daerahnya aku lupa. Yang aku ingat, patokannya ada Alfamidi yang berdampingan dengan Indomaret :D.

Kita melanjutkan perjalanan saat hujan sudah sedikit reda. Bener-bener perjuangan banget perjalanan ini, loh! Kita berhenti hanya saat waktu shalat. Sampe akhirnya nyampe di lokasi Puncak Darma Ciletuh pada pukul 19.00 WIB. Sedih guys, gak dapat menikmati sunset-nya. Oia temen-temen, perjalanan menuju Puncak Darma Ciletuh cukup menantang dan menegangkan loh, karena jalan yang ditempuh cukup terjal, baik menurun maupun mendaki. Tapi selama menuju Puncak Darma, kita bisa menikmati pesona alam Pantai Pelabuhan Ratu.

Jalan yang ditempuh menuju Puncak Darma Ciletuh pada sisi dari Pantai Pelabuhan Ratu

Malam itu, kita terkendala dengan masalah pemasangan tenda. Tanah di Puncak Darma habis diguyur hujan, jadi tanahnya becek dan penuh lumpur. Dan lokasi yang tersisa untuk pemasangan tenda saat itu, sebuah tanah kosong, tanpa adanya pepohonan serta rumput di sekitarnya. Disini, kita pun terjadi perdebatan, gak mungkin untuk mendirikan tenda dengan sikon seperti itu. Yang dikhawatirkan, apabila terjadi badai di malam hari, tak ada yang akan menahan tenda. Lalu, kita disarankan oleh petugas yang ada disana, bisa sewa penginapan dengan harga 400k semalam untuk 1 rumah, wew! Namun, jika kita milih nginap di penginapan, gak bakalan ngerasain moment ngcamp-nya dong! Amin, Falah dan Bambang melakukan survey ke lokasi lain, yang memungkinkan bisa didirikan tenda. Akhirnya, kita dapat lokasi yang diantara pepohonan, tanahnya gak terlalu berlumpur, serta kita bisa lihat pemandangan indahnya Pantai Pelabuhan Ratu.

Ini jejak perjalanan saat ke Puncak Darma yang tanahnya sudah diguyur hujan. Nyesel banget dah make sepatu warna putih.

Guys, trip kali ini, aku merasa terlalu banyak konflik. Karena, salah satu teman kecewa karena tidak sesuai ekspetasi, sehingga malam itu dia memilih tidur di Mushola gak jauh dari lokasi camp. Sedangkan Endo mengalami demam dan masuk angin. Malam itu, dia hanya bisa tiduran dalam tenda. Aku dan Tiara direpotkan untuk mengurus dia, yang susah disuruh makan, minum obat, mungkin karena kondisinya yang kurang sehat, apapun yang dia makan, ujungnya dimuntahkan lagi.  Padahal, kalo dia sehat nih, pasti bentar-bentar dia bakalan ngemil atau makan. Aku khawatir dengan kondisi dia yang seperti itu, bagaimana dia mau ngendarain motor saat balik ke Bogor. Dan disaat seperti ini, aku menyesali akan ketidakberanian aku untuk mengendarai motor.

Tenda kecil buat girls (Aku, Tiara dan Yeyen), Tenda besar buat boys (Endo, Amin, Bambang, Falah dan Jepri) Btw, ini fotonya aku ambil saat pagi.

Setelah kita masang tenda, kita memilih menghangatkan tubuh dengan makan dan minum yang hangat-hangat. Oia, Guys! Ternyata, di Puncak Darma mah gak usah bawa logistik. Karena disepanjang jalan banyak warung-warung yang jualan. Mungkin harganya aja yang lumayan mahal dibandingkan biasanya. Tapi, kalo kalian males nih bawa berat-berat hanya untuk logistik, mending beli aja disana, hehe. Aku dan Tiara justru sudah menyiapkan persiapan banyak hanya untuk logistik. Karena, kita mikir bakalan ngcamp di lokasi yang kayak di gunung, gak ada yang jualan atau sulit mencari makanan.

Gak lama kita duduk-duduk menghangatkan badan, mulai terjadi kebisingan. Motor-motor membunyikan klasonnya. Seolah-olah sebagai perhitungan mundur menjelang pergantian tahun baru. Kita sontak menyaksikan momen tersebut. Saat memandang ke bawah pun, lokasi pemukiman masyarakat, saling beriringan memancarkan kembang api. Indah banget, Guys! Sayang, momen ini gak diabadikan, karena terlalu gelap, difoto pun hasilnya tak kelihatan. (Mungkin karena hape aku yang belum terlalu canggih). Setelah menyaksikan pergantian tahun baru, kita pun memilih kembali ke tenda sembari menghangatkan tubuh di depan perapian kompor. (haha, kita gak ngidupin api unggun, karena tanah basah, ranting yang bawa juga basah). Malam itu, aku, Tiara, Yeyen, Falah, dan Jepri menikmati malam dengan bernyanyi diiringi musik yang dimainkan Jepri dengan menggunakan Ukuleleist hingga jam 2 pagi. Aku turut menyumbangkan suara, padahal tau, suara aku tuh miris untuk didengar. Hahah. Masa bodo, hobinya nyanyi meski suara gak mendukung. Endo tetap lelap di tenda untuk istirahat, dan Amin tiduran di hammock.

Nah, karena ini hanya sebuah bukit yang posisinya di dekat pantai. Malamnya, gak begitu dingin, bahkan bisa dibilang suhunya normal. Jadi, aku memilih untuk tidur gak pake sleeping bag. Dan sekitaran pukul 4.30 aku terbangun, karena suhu berubah dratis, aku sempat gemetaran karena kedinginan. Aku langsung menggunakan sleeping bag, lalu menyelimuti tubuhku dengan kain yang ku bawa. Ternyata, subuh itu hujan deres banget. Wajar, suhu berubah jadi dingin.

Pemandangan samping tenda.

Segini dulu cerita perjalananku di Puncak Darma Ciletuh. Jika kalian kesini, jangan lupa untuk mempersiapkan mental dan fisik ya!!!

Tak peduli kemana pun kakimu melangkah, jika kau dapat menikmati setiap perjalananmu, percayalah kau akan mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan. Dan tak peduli bersama siapapun kamu melangkah, jika kau mampu beradaptasi dengan perbedaan, percayalah kau akan menemukan teman-teman baru disetiap perjalananmu.

Untuk cerita perjalananku di Curug Awang, Air Terjun Niagara-nya Indonesia. Akan ku ceritakan di sesi berikutnya ya, Cingu!

=Big Hug=

#ovajourney

2 comments
12 likes
Next post: Pendakian Pertama Yang Istimewa!!!

Comments

  • Sunarti kacaribu

    February 8, 2019 at 1:58 AM
    Reply

    Masya Allah, uda endo di sini mulai sakitnya, saya kira yang dari jogja, btw walau banyak konflik tapi perjalanannya asyik ya Va, Oh iya, apakabar […] Read MoreMasya Allah, uda endo di sini mulai sakitnya, saya kira yang dari jogja, btw walau banyak konflik tapi perjalanannya asyik ya Va, Oh iya, apakabar sepatu putih nya, abis nyebur je lumpur wkwkwk... Read Less

    • Ova Forlendy
      to Sunarti kacaribu

      February 8, 2019 at 4:48 PM
      Reply

      Sepulang Jogja juga skit, tapi udah sembuh mak. Pas trip ini sakit lagi, mungkin karena hujanan mak. Menikmati momentnya aja mak, karena mau balik kesana lagi, […] Read MoreSepulang Jogja juga skit, tapi udah sembuh mak. Pas trip ini sakit lagi, mungkin karena hujanan mak. Menikmati momentnya aja mak, karena mau balik kesana lagi, mikir beribu kali lagi mak, heheh Sepatu? hiks. Sudah berganti warna menjadi cream kekuningan, miris ngliatnya mak. Read Less

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *